Ilmuwan Temukan Cara Berkomunikasi dengan Hewan

jerapahApakah Hewan Memiliki Kasih Sayang Layaknya Manusia?
Baru-baru ini, foto jerapah yang tengah mencium seorang petugas senior kebun binatang yang sedang kritis, yang beredar di Facebook, telah menggugah dunia. Foto yang membuat hati terenyuh ini juga memunculkan topik pembicaraan, "Apakah hewan memiliki pikiran dan perasaan?"

Tak lama sebelum itu, seorang ilmuwan Kanada menyebutkan bahwa telah ditemukan metode untuk berkomunikasi dengan hewan. Faktanya, para hewan ternyata lebih cerdas daripada yang dibayangkan oleh manusia, dan kegiatan mereka pun tidak hanya sebatas mengikuti kemampuan naluriahnya.
Hewan Ternyata Lebih Cerdas daripada yang Dibayangkan Oleh Manusia
Menurut surat kabar Daily Post, Inggris, pada 10 Maret lalu, Profesor Ian Duncan dari University of Guelph, Kanada, menyatakan bahwa dirinya telah menemukan suatu metode untuk berbicara dengan hewan peliharaan maupun hewan ternak. Profesor Duncan telah melakukan riset tentang "ilmu bahasa hewan" selama 30 tahun, yang bertujuan agar dapat memahami apakah para hewan telah puas dengan kondisi tempat tinggal mereka, atau apakah mereka mendapatkan perawatan yang baik atau tidak. Karena perlakuan terhadap setiap jenis hewan berbeda-beda, maka para hewan dapat menyampaikan pilihan dan jawaban mereka.
Menurut Duncan, metode komunikasi dan interaksi dengan hewan seperti ini berlandaskan pada teori ilmiah. Tesis ini telah dirilis pada suatu konferensi akademis yang diselenggarakan di Washington, AS. Duncan beranggapan, hampir di sekitar tiap orang di muka Bumi ini terdapat hewan, dan faktanya hewan-hewan itu lebih cerdas daripada yang dibayangkan oleh manusia. Kegiatan hewan tidak terbatas hanya pada kemampuan nalurinya semata.
"Kehidupan para hewan lebih beraneka ragam daripada yang dibayangkan oleh manusia, mereka tidak hanya mampu mengingat masa lalu, bahkan juga bisa berpikir tentang masa depan," ujar Duncan.
kucing
Hewan Juga Memiliki Perasaan
Mengenai masalah apakah hewan memiliki pikiran dan perasaan, di kalangan para ilmuwan hingga kini masih terdapat selisih pendapat. Akan tetapi, kian lama kian banyak bukti yang menunjukkan bahwa hewan juga memiliki perasaan tingkat tinggi, seperti kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, bahkan cinta kasih dan rasa malu.
Pakar biologi bernama Joyce Pool telah meneliti gajah Kenya selama lebih dari 20 tahun, dan ia mendapati bahwa di antara sesama gajah terdapat banyak sekali perilaku yang sangat janggal. Satu hal yang paling berkesan baginya adalah bagaimana di antara sesama gajah melakukan "ritual penyambutan" yang sangat meriah.
Pernah suatu kali dia melihat kawanan gajah lebih dari 50 ekor berkumpul, dan mereka semua meniupkan belalainya dengan suara memekakkan telinga sambil mengepak-ngepak telinganya secara keras, serta berlarian berputar-putar, semua anggota kawanan itu mengeluarkan suara tiupan belalai yang keras dan menggema. Ia yakin bahwa gajah-gajah itu sedang dalam kondisi yang sangat bersemangat, suara tiupan belalai yang membahana itu seolah menyampaikan pesan: "Hai, kawan! Senang bertemu lagi denganmu!"
Pakar hewan primata, Jane Godard, juga pernah melihat pemandangan saat gorlla di Kebun Binatang Tanzania sedang berbagi kebahagiaan bersama. Namun yang paling menyentuh hatinya adalah saat dia melihat sendiri seekor anak gorila yang sedang meratapi kematian induknya yang berusia 50 tahun. Anak gorilla yang masih berusia 8 tahun tersebut, seharian menunggui jasad sang induk yang sudah tak bergerak lagi, kadang kala ia menarik lengan sang induk, lalu menangis. Beberapa minggu setelah kejadian itu, si gorila muda berubah menjadi loyo, tidak mau makan dan minum, lalu akhirnya ia pergi meninggalkan kelompoknya. Tiga setengah minggu setelah sang induk meninggal, anak gorila yang dulunya lincah dan sehat itu pun mati. Menurut Godard, anak gorilla itu jelas mati akibat perasaan sedih yang terlalu mendalam.
Telah banyak ilmuwan yang melihat perasaan belas kasih antar hewan seperti ini, terutama saat hewan-hewan itu kehilangan pasangannya, orang tua, anak-anak, atau teman dekat mereka. Seperti seekor singa laut betina yang melolong sedih saat melihat anaknya dimakan oleh paus pemburu. Hewan jenis primata besar, kera, bahkan beruang, moose (rusa besar Amerika Utara), kijang antelop, dan jenis unggas, kerap berjaga di sisi jasad keluarganya yang telah mati, kadang mereka jatuh sakit karena perasaan sedih yang berlebihan dan kemudian mati.
ikan hiu
Perempuan Unik di Taiwan Memiliki Telepati dengan Hewan Peliharaannya
Apakah sebenarnya hewan memiliki perasaan dan pikiran? Media Taiwan pernah memberitakan kisah nyata yang memberikan jawaban dari sudut pandang lain atas pertanyaan ini. Menurut media tersebut, seorang perempuan di Kota Kaohsiung bernama Li Fanghong, yang merupakan seorang pengajar perusahaan, sejak tahun 2000 mulai memiliki kemampuan unik yaitu bisa memahami perasaan hewan peliharaannya. Jika hewan peliharaannya digendong dalam pelukannya, maka dia bisa merasakan perasaan hewan tersebut. Kemudian dia pun mulai memberikan pelayanan gratis kepada para pemilik hewan peliharaan lainnya, dan membuat sebuah website yang bernama Dolittle Pet Hotel, sebagai "jembatan" komunikasi antara pemilik dengan hewan peliharaan mereka.
Kemampuan berkomunikasi dengan hewan ini didapat oleh Li Fanghong dengan tiba-tiba. Suatu malam di tahun 2000, Li menggendong anjing peliharaannya, tiba-tiba dia bisa "merasakan" anjing kecilnya itu "melaporkan" padanya bahwa anaknya telah mencuri uang, bahkan si anjing bisa menceritakan jumlah uang yang dicuri, tempat kejadian, dan keseluruhan prosesnya dengan jelas. Ia pun membuktikannya dengan menginterogasi putrinya.
"Tidak saya sangka, ternyata pengakuan putri saya itu sama persis dengan apa yang diceritakan oleh anjing saya," ujar Li.
Setelah kejadian itu, Li kembali mendapat pembuktian akan kemampuan telepatinya itu pada hewan-hewan lain seperti burung, kucing, kelinci, dan lain sebagainya.
Kemudian dia pun bertekad untuk memberitahu "isi hati" para hewan peliharaan kepada para majikan mereka, dengan memberikan pelayanan gratis kepada para pemilik hewan peliharaan untuk menyelesaikan masalah mereka dengan hewan-hewan tersebut. Selama beberapa tahun pelayanannya, Li menemui berbagai kasus yang memberikan kesan sangat mendalam. Dia pernah merasakan seekor anjing peliharaan memaki dengan ucapan kotor, Li Fanghong pun bertanya pada anjing itu, mengapa si anjing begitu marah?
Anjing itu mencurahkan isi hatinya, yaitu karena anak laki-laki tetangganya seringkali memukulinya. Li pun menerjemahkan isi hati anjing itu pada sang majikan, yang lantas menyadarkannya. Ada juga anjing lain yang mengatakan bahwa majikannya seorang lelaki pemalas dan sering menganiaya istrinya. Anjing itu berkata, "Saya sungguh berharap majikan lakilaki dan perempuan bercerai," dan majikan perempuannya pun membenarkan kelakuan suaminya yang suka melakukan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga).
Pernah terdapat seorang netter bernama Chen Zhaohong yang masuk ke situs itu karena anjingnya tidak bersemangat, Chen berkata, "Ini benar-benar terjadi, dia bisa merasakan bahwa anjing saya sedang mengalami radang usus, setelah saya periksakan ke dokter hewan, hasil pemeriksaan dokter juga mengatakan demikian, sungguh ajaib, saya sungguh salut pada Li Fanghong."
Li Fanghong tidak hanya dapat berkomunikasi dengan anjing, ia juga pernah membantu menyampaikan pesan wasiat dari si anjing kepada keluarga majikannya, yang akhirnya membuat keluarga pemilik anjing yang nyaris hancur itu kembali tumbuh harapan baru. Kelihatannya memang mustahil, namun Li Fanghong tetap menegaskan bahwa percaya atau tidak, itu kembali kepada masing-masing pribadi, dan dapat atau tidaknya merasakan suara hati hewan, segalanya kembali pada jodoh (takdir pertemuan).
Ada Perbedaan Antara Perasaan Hewan dan Manusia
Meskipun kian lama kian banyak orang yang percaya bahwa hewan juga memiliki perasaan, namun para ilmuwan tetap berharap agar masyarakat dapat menanggapi hal ini dengan rasional. Pakar biologi dari Harvard University bernama Mark Husser mengatakan, "Dalam hal ini banyak pemahaman yang gegabah, terutama pada perilaku anjing dan kucing. Memban-dingkan perasaan manusia dengan hewan, adalah seperti membandingkan antara warna-warni dengan hitam-putih, kedua konsep ini sama sekali berbeda, namun warna-warni jelas memiliki tingkat kompleksitas yang jauh lebih tinggi."
Seorang ahli biologi penulis buku Minding Animals bernama Marc Bekoff juga berpendapat, "Kebahagiaan seekor anjing berbeda dengan manusia". Sebagai contoh, berbicara soal cinta kasih, hewan peliharaan tentunya juga memiliki kasih sayang terhadap majikannya, namun kasih sayang ini jelas berbeda dengan kasih saying manusia pada keluarganya.
Seorang pelatih anjing professional bernama Gerard juga sependapat, "Saya sangat senang akhirnya ilmu pengetahuan mulai memahami bahwa hewan juga memiliki perasaan. Hal ini membuat pekerjaan saya semakin mudah. Namun kita tetap tidak bisa memperlakukan hewan sama seperti kita memperlakukan manusia." (sud/rahmat)Dibuat: 19 April 2014 Ditulis oleh The Epoch Times

Komentar

Postingan populer dari blog ini