Wujud nyata visi dan misi , memberdayakan potensi budi daya jamur Tiram




Hari Senin 09-02-2014 kami mendatangi rekanan yayasan yang sudah melakukan usaha budidaya Jamur Tiram dan mempertemukannya dengan donatur yang berminat berusaha Jamur Tiram, kami ketemu bapak Sihab dan kawannya dan donatur yang kami bawa bernama pa Rahmat.terjadi diskusi dan pembelajaran dari usaha ini dan cukup lama kami melakukan ini. seprtinya bapak Sihab memilki baris rak sebanyak
10 rak dengan jumlah jamur tiram satu raknya 1000 bh (baglog)sehingga kalau di hitung dtempatnya bapak Sihab ada 10.000 bh  baglog. berikut kalkulasi ringan dan hitungan sederhana usaha jamur tiram.

Proses Produksi (Budidaya) Jamur Tiram
  1. Pengumpulan Bahan-Bahan dan Peralatan. Bahan-bahan: serbuk kayu, dedak padi/bekatul, tepung jagung, dolomit/kapur, gips dan air. Peralatan: plastik baglog, cincin paralon, tali plastik, kapas, plastik penutup baglog, cangkul, sekop, ayakan, plastik terpal, dan sterilizer.

  2. Pengayakan Serbuk Kayu, perlu dialkukan untuk menghomogenkan ukuran serbuk kayu dan untuk menyaring adanya serpihan-serpihan tajam yang dapat merobek plastik pembungkus media.

  3. Pencampuran Bahan-Bahan, pertama-tama bahan-bahan dicampur/diaduk secara merata, setelah itu ditambahkan air bersih, diaduk kembali hingga merata. Jumlah air cukup ditandai dengan cara menggenggam campuran media, tidak terlalu basah (tandanya air merembes), tidak pula kurang (tandanya dapat dilihat bila digenggam kemudian dilepas gumpalan media langsung “pecah”)

  4. Pengomposan (1-3 hari), langkah ini perlu dilakukan untuk “melunakkan” media, analoginya seperti mengunyah makanan dengan gigi dan ludah sebelum masuk ke lambung, sehingga bibit jamur lebih mudah “mencerna” media tersebut. Dibiarkan aja sebenarnya bisa (48 jam maks) namun untuk mempercepatnya dapat dilakukan dengan cara menambahkan 0,1% b/v  larutan EM4 murni (tanpa diencerkan) ke dalam air sebelum media diaduk (langkah 3).

  5. Pembuatan Baglog, media dimasukkan ke dalam plastik PP yang agak tebal, dipadatkan dengan botol atau kayu tumpul, diikat erat dengan tali plastik.

  6. Sterilisasi Baglog, dengan cara mengukusnya dalam drum yang dimodifikasi selama 8 jam. Lebih bagus lagi dengan alat sterilizer yang dibuat khusus yang terbuat dari tembok.

  7. Pendinginan Baglog, proses pendiginan agak lama, atau biarkan selama satu malam.

  8. Penanaman (inokulasi) Bibit Jamur, proses ini dilakukan di ruangan yang bersih dan tertutup. Setelah bibit diinokulasi kira-kira satu sendok makan penuh untuk 1,5 kg media, ujung baglog dipasang cincin paralon (pvc) atau dari bambu (diselipkan ke ujung plastik) kemudian disumbat dengan kapas baru, diikat dengan karet gelang.

  9. Inkubasi Baglog, baglog disimpan di ruang inkubasi selama 40 hari, atau setelah media ditutupi miselium jamur secara utuh.

  10. Pembukaan Baglog, ujung baglog dipotong persis di bawah cincin, kemudian baglog tersebut diletakkan dalam rak inkubasi. Proses perawatan dilakukan dengan cara menjaga suhu dan kelembaban ruangan inkubasi. Setiap pagi dan sore sebaiknya disemprotkan air bersih ke dalam ruangan, jangan menyemprot langsung ke media, karena kalau kelebihan air, media bisa busuk.

  11. Pemanenan Jamur, setelah satu minggu (paling lambat dua minggu) media sudah ditumbuhi jamur tiram. Pemanenan kedua (bisa sampai empat kali panen) pada media yang sama biasanya lebih cepat. Indikator media yang bagus menghasilkan jamur sebanyak 30-50% dari berat media awal.

  12. Pengemasan Produk, jamur dibersihkan dari kotoran-kotoran (sisa media) yang melekat, dikemas dalam plastik, udaranya dikeluarkan dan di-seal menggunakan vacuum sealer. Ketahanan jamur segar yang di-vacuum di udara terbuka yang bersih biasanya 3-5 hari, tanpa vacuum 2-3 hari, di lemari pendingin (cooler) 10-15 celcius, yang di-vacuum bisa bertahan hingga tiga minggu. Tanda-tanda jamur yang tidak segar lagi, terlihat layu, berair, warnanya menguning.

Komentar

Postingan populer dari blog ini